Posts

Bersama-sama Membesarkan Anak 手をつなぐ子育て oleh Katsuyuki Hiroki (2)

Bagian 2: Anak Putus Sekolah Menurut definisi kementerian pendidikan Jepang tahun 2003, seorang anak (usia wajib belajar 6-15 tahun) disebut Putus Sekolah atau futoukou 不登校, jika absen dari sekolah selama total 30 hari dalam 1 tahun, di luar alasan sakit atau alasan ekonomi. Dalam kelompok anak putus sekolah ini, penulis menitikberatkan pembahasan pada anak-anak yang sebenarnya ingin pergi ke sekolah tapi tubuhnya "menolak", misalnya tiba-tiba sakit kepala, sakit perut, atau bahkan tidak memiliki tenaga sama sekali. Suatu kondisi fisik yang timbul karena masalah psikologi yang dialami anak-anak/remaja karena kondisi di sekolah, secara khusus disebut toukoukyohi 登校拒否.  Seiring dengan tren bertambahnya angka anak-anak putus sekolah, terutama masalah toukoukyohi karena faktor psikologis ini, pihak pemerintah pun mengupayakan penyelesaian melalui beberapa pendekatan, salah satunya dengan menambahkan jam konsultasi pribadi guru dengan murid, satu hal yang menurut penulis tida...

Bersama-sama Membesarkan Anak 手をつなぐ子育て oleh Katsuyuki Hiroki (1)

Image
Judul : 手をつなぐ子育て Penulis : Katsuyuki Hiroki Penerbit : Kamogawa Shuppan Tahun : 2005 Jumlah Halaman : 213 ISBN 9784876998807 Bagian I Krisis Pengasuhan Anak "It takes a village to raise a child", sebenarnya anak-anak dibesarkan tidak hanya oleh kedua orangtuanya, tapi secara bersama-sama dengan sesama warga sedusun. Sebuah kalimat yang mungkin sekarang sudah tidak berlaku lagi. Penulis menyebut kondisi pengasuhan anak (dalam bahasa Jepang, kosodate 子育て), sudah memasuki masa krisis. Penyebab pertama adalah, menurunnya kemampuan berkomunikasi pada anak-anak , dan erat kaitannya dengan penyebab kedua, yaitu terpusatnya fokus pengasuhan anak hanya kepada kedua orangtuanya, bahkan lebih sempit lagi, kepada ibunya saja . Penulis yang kelahiran tahun 1945, mengalami masa kecil yang keras karena kekalahan Jepang dalam PPD II, menyebut pengasuhan anak di masanya masih lebih mudah ketimbang pengasuhan anak di masa kini, saat Jepang justru lebih makmur secara ekonomi. Pe...

The Curse of Cash oleh Kenneth S. Rogoff

Image
Judul : The Curse of Cash Penulis : Kenneth S. Rogoff Halaman : 303 halaman Penerbit : Princeton University Press Tahun : 2016 ISBN : 978-0-691-17836-3 The Curse of Cash ditulis oleh Kenneth S. Rogoff, Profesor kebijakan publik dan ekonomi di Universitas Harvard. Rogoff sempat putus sekolah di usia 16 tahun untuk menjadi granmaster catur, dan kemudian memutuskan kembali kuliah saat usia 18 tahun. Rogoff sebagai ekonom tercatat pernah memicu kontroversi terkait data penelitiannya bersama Carmen Earheart (April, 2013), tentang kaitan antara hutang dan pertumbuhan menggunakan sampel 20 negara maju yang menyimpulkan bahwa setelah hutang melampaui 90% dari GDP, maka pertumbuhan akan melambat -0.1%. Rogoff disinyalir dengan sengaja mengeliminasi data, selain karena faktor teknis pengolahan data. Kritik yang disampaikan ekonom Thomas Herndon yang menggunakan data yang sama menemukan tingkat pertumbuhan 2.2%. kontroversi yang membuktikan bahwa "popularitas" seorang ekonom tida...

Thomas Piketty dan Kesenjangan di Jepang (3)

Image
Bagian kedua kolom 経済教室 kursus ekonomi, harian Nikkei Shinbun Kamis 12 Februari 2015 ditulis oleh Abe Aya, peneliti IPSS (National Institute of Population and Social Security Research). Piketty  booming  yang melanda Jepang merupakan fenomena yang menggembirakan karena masalah kesenjangan kembali menjadi perbincangan masyarakat Jepang, setelah terlupakan karena mulai tahun 90-an lebih memfokuskan perhatian pada masalah penuaan penduduk. Pada tahun 2013, masalah kesenjangan memang kembali mengemuka karena pemerintah Jepang mencanangkan kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah kemiskinan pada anak-anak. Tetapi kebijakan ini tidak menyentuh substansi kesenjangan seperti dimaksudkan Piketty dalam penelitiannya.

Thomas Piketty dan Kesenjangan di Jepang (2)

Image
Nikkei Shinbun menurunkan tulisan tentang kesimpulan Piketty dan pilihan kebijakan  growth versus equity  di Jepang 2 hari berturut dalam kolom 経済教室 Kursus Ekonomi, Nikkei Shinbun (setiap hari kerja). Pertentangan antar pertumbuhan dan kesejangan yang dibahas Piketty kembali ditelusuri dengan menggunakan data ekonomi Jepang. Bagian pertama (edisi Rabu 11 Februari 2015)diisi oleh tulisan Profesor Moriguchi Chiaki (Hitotsubashi University, Stanford University). Bekerja sama dengan Profesor Emanuel Saez (California University, Barkeley), Prof Moriguchi mengolah data pungutan pajak penghasilan atas 0.1% populasi terkaya di Jepang, mulai tahun 1890 hingga tahun 2012. Data ini memiliki ciri spesifik yang berbeda dengan data yang sama untuk negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Pertama, data ini mencakup rentang yang sangat panjang karena sejarah pemberlakuan pajak penghasilan yang dimulai sejak tahun 1887. Kedua, berbeda dengan Eropa yang mengalami revolusi in...

Follow Buku Shujindakara on Facebook